NAMA :AGUSTINUS
SIHURA/NIAS
JURUSAN/PRO. STUDI:
BAHASA INDONESIA
MATA UJI :
SASTRA LANJUT
NPM :
127015037
:
Puisi yang dianalisis oleh
penulis dalam tugas mata kuliah sastra lanjut adalah puisi yang berjudul “AKU”
yang merupakan karya Chairil Anwar. Unsur yang dinilai dalam puisi ini adalah
unsur intrinsik. Berikut adalah syair puisi tersebut.
AKU
Karya: Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Analisi Puisi “AKU”
Adapan unsur-unsur
intrinsik yang terdapat dalam puisi “aku” adalah, sebagai berikut:
1.
Tema
atau Sense
Tema dalam puisi ‘AKU’ ini adalah
perjuangan seperti pada baris keempat dan kelima:
‘Biar peluru menembus kulitku’ dan ‘Aku tetap meradang
menerjang’.
2.
Feeling
atau Rasa
Feeling atau Rasa merupakan salah satu unsur isi yang
dapat mengungkapkan sikap penyair pada pokok persoalan puisi. Pada puisi di
atas merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua
ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam, tetapi
mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa “jika sampai
waktunya”, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia
ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai “aku”. Bahkan jika ia terluka, akan di
bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka
itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup.
Sebab itu ia malahan ingin hidup seribu tahun lagi. Uraian di atas merupakan
yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah sikap chairil yang lahir dari
ekspresi jiwa penyair.
3.
Tone
atau Nada
Kalau feeling menggambarkan sikap penyair kepada pokok
persoalan puisinya, sedangkan tone atau nada merupakan unsur isi yang
menggambarkan sikap penyair kepada pembacanya. Dalam Puisi ‘Aku’ terdapat kata
‘Tidak juga kau’, Kau yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca
atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil
dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah
itu baik, atau pun buruk. Disamping Chairil ingin menunjukkan
ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat pesan lain
dari Chairil, bahwa manusia itu itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari
salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja,
karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu,
Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya.
Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian
itu.
4.
Amanat
Amanat dalam Puisi ‘Aku’ karya
Chairil Anwar yang dapat saya simpulkan dan dapat kita rumuskan adalah
sebagai berikut :
·
Manusia
harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun
rintangan menghadang.
·
Manusia
harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan
kelebihannyasaja.
·
Manusia
harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya
itu dapat hidup selama-lamanya.
5.
Diksi
Untuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair
menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat,
diubah kata-katanya.
Seperti pada baris kedua: bait pertama
“Ku mau tak seorang ’kan merayu”
Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”.
“kalau sampai waktuku”
dapat
berarti “kalau aku mati”
“tak perlu sedu
sedan“
dapat
bererti “berarti tak ada gunannya kesedihan itu”. “Tidak juga kau” dapat
berarti “tidak juga engkau anaku, istriku, atau kekasihku”.
6.
Imajeri atau daya bayang
Melalui diksi, kata nyata, dan majas yang
digunakannya, penyair berupaya menumbuhkan pembayangan para penikmat
sajak-sajaknya. Semakin kuat dan lengkap pembayangan yang dapat dibangun oleh
penikmat sajak-sajaknya, maka semakin berhasil citraan yang dilakukan penyair.
Di dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian, diantaranya :
‘Ku mau tak seorang ’kan merayu (Imaji Pendengaran)
‘Tak perlu sedu sedan itu’ (Imaji Pendengaran)
‘Biar peluru menembus kulitku’ (Imaji Rasa)
‘Hingga hilang pedih perih’ (Imaji Rasa).
7.
Kata-kata konkret/Nyata
Secara makna, puisi Aku tidak
menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan
kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan
judul sebelumnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau
mengalah, seperti Chairil itu sendiri.
8.
Gaya bahasa
Dalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan
dengan sarana retorika yang berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta
diperkuat oleh ulangan bunyi vokal a dan u ulangan bunyi lain serta persajakan
akhir seperti telah dibicarakan di atas. Hiperbola tersebut:
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar perlu menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang ………
Aku ingin hidup seribu tahun lagi
Gaya tersebut disertai ulangan i-i
yang lebih menambah intensitas :
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku ingin hidup seribu tahun lagi
Dengan demikian jelas hiperbola
tersebut penonjolan pribadi tanpa makin nyata disana ia mencoba untuk nyata
berada di dalan dunianya.
9.
Irama atau ritme
Ritme dalam puisi yang berjudul
‘Aku’ ini terdengar menguat karena ada pengulangan bunyi (Rima) pada huruf
vocal ‘U’ dan ‘I’
Vokal ‘U’pada larik pertama dan ke
dua, pengulangan berseling vokal a-u-a-u
Larik pertama ‘Kalau sampai
waktuku.’
Larik kedua ‘Ku mau tak seorang-’kan
merayu.
Larik kedua ‘Tidak juga kau’.
Pengulangan vokal ‘I’:
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
10.
Tipografi/Rima atau unsur bunyi atau sajak
Tipografi atau disebut juga ukiran bentuk. Dalam Puisi
didefinisikan atau diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata
dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa
dan suasana. Namun dalam sajak ‘Aku’ karya Chairil Anwar tidak menggunakan
tipografi